Jumat, 05 November 2010

True Story, Pahlawan 4 nyawa


Hidup ini memang ujian. Seperti apa pun warna hidup yang Allah berikan kepada seorang hamba, tak luput dari yang namanya ujian. Bersabarkah sang hamba, atau menjadi kufur dan durhaka.
Dari sudut pandang teori, semua orang yang beriman mengakui itu. Sangat memahami bahwa susah dan senang itu sebagai ujian. Tapi, bagaimana jika ujian itu berwujud dalam kehidupan nyata. Mampukah?
Hal itulah yang pernah dialami Bu Khairiyah. Semua diawali pada tahun 1992.
Waktu itu, Allah mempertemukan jodoh Khairiyah dengan seorang pemuda yang belum ia kenal. Perjodohan itu berlangsung melalui sang kakak yang prihatin dengan adiknya yang belum juga menikah. Padahal usianya sudah nyaris tiga puluh tahun.
Bagi Khairiyah, pernikahan merupakan pintu ibadah yang di dalamnya begitu banyak amal ibadah yang bisa ia raih. Karena itulah, ia tidak mau mengawali pintu itu dengan sesuatu yang tidak diridhai Allah.
Ia sengaja memilih pinangan melalui sang kakak karena dengan cara belum mengenal calon itu bisa lebih menjaga keikhlasan untuk memasuki jenjang pernikahan. Dan berlangsunglah pernikahan yang tidak dihadiri ibu dan ayah Khairiyah. Karena, keduanya memang sudah lama dipanggil Allah ketika Khairiyah masih sangat belia.
Hari-hari berumah tangga pun dilalui Khairiyah dengan penuh bahagia. Walau sang suami hanya seorang sopir di sebuah perusahaan pariwisata, ia merasa cukup dengan yang ada.
Keberkahan di rumah tangga Khairiyah pun mulai tampak. Tanpa ada jeda lagi, Khairiyah langsung hamil. Ia dan sang suami pun begitu bahagia. "Nggak lama lagi, kita punya momongan, Bang!" ujarnya kepada sang suami.
Mulailah hari-hari ngidam yang merepotkan pasangan baru ini. Tapi buat Khairiyah, semuanya berlalu begitu menyenangkan.
Dan, yang ditunggu pun datang. Bayi pertama Bu Khairiyah lahir. Ada kebahagiaan, tapi ada juga kekhawatiran.
Mungkin, inilah kekhawatiran pertama untuk pasangan ini. Dari sinilah, ujian berat itu mulai bergulir.
Dokter menyatakan bahwa bayi pertama Bu Khairiyah prematur. Sang bayi lahir di usia kandungan enam bulan. Ia bernama Dina.
Walau dokter mengizinkan Dina pulang bersama ibunya, tapi harus terus berobat jalan. Dan tentu saja, urusan biaya menjadi tak terelakkan untuk seorang suami Bu Khairiyah yang hanya sopir.
Setidaknya, dua kali sepekan Bu Khairiyah dan suami mondar-mandir ke dokter untuk periksa Dina. Kadang karena kesibukan suami, Bu Khairiyah mengantar Dina sendirian.
Beberapa bulan kemudian, Allah memberikan kabar gembira kepada Bu Khairiyah. Ia hamil untuk anak yang kedua.
Bagi Bu Khairiyah, harapan akan hiburan dari anak kedua mulai berbunga. Biarlah anak pertama yang menjadi ujian, anak kedua akan menjadi pelipur lara. Begitulah kira-kira angan-angan Bu Khairiyah dan suami.
Dengan izin Allah, anak kedua Bu Khairiyah lahir dengan selamat. Bayi itu pun mempunyai nama Nisa. Lahir di saat sang kakak baru berusia satu tahun. Dan lahir, saat sang kakak masih tetap tergolek layaknya pasien berpenyakit dalam. Tidak bisa bicara dan merespon. Bahkan, merangkak dan duduk pun belum mampu. Suatu ketidaklaziman untuk usia bayi satu tahun.
Beberapa minggu berlalu setelah letih dan repotnya Bu Khairiyah menghadapi kelahiran. Allah memberikan tambahan ujian kedua buat Bu Khairiyah dan suami. Anak keduanya, Nisa, mengalami penyakit aneh yang belum terdeteksi ilmu kedokteran. Sering panas dan kejang, kemudian normal seperti tidak terjadi apa-apa. Begitu seterusnya.
Hingga di usia enam bulan pun, Nisa belum menunjukkan perkembangan normal layaknya seorang bayi. Ia mirip kakaknya yang tetap saja tergolek di pembaringan. Jadilah Bu Khairiyah dan suami kembali mondar-mandir ke dokter dengan dua anak sekaligus.
Di usia enam bulan Nisa, Allah memberikan kabar gembira untuk yang ketiga kalinya buat Bu Khairiyah dan suami. Ternyata, Bu Khairiyah hamil.
Belum lagi anak keduanya genap satu tahun, anak ketiga Bu Khairiyah lahir. Saat itu, harapan kedatangan sang pelipur lara kembali muncul. Dan anak ketiganya itu bayi laki-laki. Namanya, Fahri.
Mulailah hari-hari sangat merepotkan dilakoni Bu Khairiyah. Bayangkan, dua anaknya belum terlihat tanda-tanda kesembuhan, bayi ketiga pun ikut menyita perhatian sang ibu.
Tapi, kerepotan itu masih terus tertutupi oleh harapan Bu Khairiyah dengan hadirnya penghibur Fahri yang mulai berusia satu bulan.
Sayangnya, Allah berkehendak lain. Apa yang diangankan Bu Khairiyah sama sekali tidak cocok dengan apa yang Allah inginkan. Fahri, menghidap penyakit yang mirip kakak-kakaknya. Ia seperti menderita kelumpuhan.
Jadilah, tiga bayi yang tidak berdaya menutup seluruh celah waktu dan biaya Bu Khairiyah dan suami. Hampir semua barang berharga ia jual untuk berobat. Mulai dokter, tukang urut, herbal, dan lain-lain. Tetap saja, perubahan belum nampak di anak-anak Bu Khairiyah.
Justru, perubahan muncul pada suami tercinta. Karena sering kerja lembur dan kurang istirahat, suami Bu Khairiyah tiba-tiba sakit berat. Perutnya buncit, dan hampir seluruh kulitnya berwarna kuning.
Hanya sekitar sepuluh jam dalam perawatan rumah sakit, sang suami meninggal dunia. September tahun 2001 itu, menjadi titik baru perjalanan Bu Khairiyah dengan cobaan baru yang lebih kompleks dari sebelumnya. Dan, tinggallah sang ibu menghadapi rumitnya kehidupan bersama tiga balita yang sakit, tetap tergolek, dan belum memperlihatkan tanda-tanda kesembuhan.
Tiga bulan setelah kematian suami, Allah menguji Bu Khairiyah dengan sesuatu yang pernah ia alami sebelumnya. Fahri, si bungsu, ikut pergi untuk selamanya.
Kadang Bu Khairiyah tercenung dengan apa yang ia lalui. Ada sesuatu yang hampir tak pernah luput dari hidupnya, air mata.
Selama sembilan tahun mengarungi rumah tangga, air mata seperti tak pernah berhenti menitik di kedua kelopak mata ibu yang lulusan 'aliyah ini. Semakin banyak sanak kerabat berkunjung dengan maksud menyudahi tetesan air mata itu, kian banyak air matanya mengalir. Zikir dan istighfar terus terucap bersamaan tetesan air mata itu.
Bu Khairiyah berusaha untuk berdiri sendiri tanpa menanti belas kasihan tetangga dan sanak kerabat. Di sela-sela kesibukan mengurus dua anaknya yang masih tetap tergolek, ia berdagang makanan. Ada nasi uduk, pisang goreng, bakwan, dan lain-lain.
Pada bulan Juni 2002, Allah kembali memberikan cobaan yang mungkin menjadi klimaks dari cobaan-cobaan sebelumnya.
Pada tanggal 5 Juni 2002, Allah memanggil Nisa untuk meninggalkan dunia buat selamanya. Bu Khairiyah menangis. Keluarga besar pun berduka. Mereka mengurus dan mengantar Nisa pergi untuk selamanya.
Entah kenapa, hampir tak satu pun sanak keluarga Bu Khairiyah yang ingin kembali ke rumah masing-masing. Mereka seperti ingin menemani Khairiyah untuk hal lain yang belum mereka ketahui.
Benar saja, dua hari setelah kematian Nisa, Nida pun menyusul. Padahal, tenda dan bangku untuk sanak kerabat yang datang di kematian Nisa belum lagi dirapikan.
Inilah puncak dari ujian Allah yang dialami Bu Khairiyah sejak pernikahannya.
Satu per satu, orang-orang yang sebelumnya tak ada dalam hidupnya, pergi untuk selamanya. Orang-orang yang begitu ia cintai. Dan akhirnya menjadi orang-orang yang harus ia lupai.
Kalau hanya sekadar air mata yang ia perlihatkan, nilai cintanya kepada orang-orang yang pernah bersamanya seperti tak punya nilai apa-apa.
Hanya ada satu sikap yang ingin ia perlihatkan agar semuanya bisa bernilai tinggi. Yaitu, sabar. "Insya Allah, semua itu menjadi tabungan saya buat tiket ke surga," ucap Bu Khairiyah kepada Eramuslim. (mnh)
(Seperti dituturkan Bu Khairiyah, warga Setiabudi Jakarta, kepada Eramuslim)

Rabu, 03 November 2010

Ali Bin Abi Thalib



Sahabat yang lahir dalam keprihatinan dan meninggal dalam Kesunyian.
Dialah, khalifah Ali bin Abi Thalib ra.
Ali
kecil adalah anak yang malang. Namun, kehadiran Muhammad SAW telah
memberi seberkas pelangi baginya. Ali, tidak pernah bisa bercurah hati
kepada ayahnya, Abi Thalib, selega ia bercurah hati kepada Rasulullah.
Sebab, hingga akhir hayatnya pun, Abi Thalib tetap tak mampu mengucap
kata syahadat tanda penyerahan hatinya kepada Allah. Ayahnya tak pernah
bisa merasa betapa nikmatnya saat bersujud menyerahkan diri,kepada Allah
Rabb semesta sekalian alam.
Kematian ayahnya tanpa membawa
sejumput iman begitu memukul Ali. Kelak dari sinilah, ia kemudian
bertekad kuat untuk tak mengulang kejadian ini buat kedua kali. Ia
ingin, saat dirinya harus mati nanti, anak-anaknya tak lagi menangisi
ayahnya seperti tangis dirinya untuk ayahnya, Abi Thalib. Tak cuma
dirinya, disebelahnya, Rasulullah pun turut menangisi kenyataan tragis
ini...saat paman yang selama ini melindunginya, tak mampu ia lindungi
nanti...di hari akhir,karena ketiaadaan iman di dalam dadanya.
Betul-betul
pahit, padahal Ali tahu bahwa ayahnya sangatlah mencintai dirinya dan
Rasulullah. Saat ayahnya, buat pertama kali memergoki dirinya sholat
berjamaah bersama Rasulullah, ia telah menyatakan dukungannya. Abi
Thalib berkata, ""Janganlah kau berpisah darinya (Rasulullah), karena ia
tidak mengajakmu kecuali kepada kebaikan".
Sejak masih berumur 6
tahun, Ali telah bersama dan menjadi pengikut setia Rasulullah. Sejarah
kelak mencatat bahwa Ali terbukti berkomitmen pada kesetiaannya. Ia
telah hadir bersama Rasulullah sejak awal dan baru berakhir saat
Rasulullah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ali ada disaat yang
lain tiada. Ali adalah tameng hidup Rasulullah dalam kondisi kritis atau
dalam berbagai peperangan genting, saat diri Rasulullah terancam.
Kecintaan
Ali pada Rasulullah, dibalas dengan sangat manis oleh Rasulullah. Pada
sebuah kesempatan ia menghadiahkan kepada Ali sebuah kalimat yang begitu
melegenda, yaitu : "Ali, engkaulah saudaraku...di dunia dan di
akhirat..."
Ali, adalah pribadi yang istimewa. Ia adalah remaja
pertama di belahan bumi ini yang meyakini kebenaran yang disampaikan
oleh Rasulullah. Konsekuensinya adalah, ia kemudian seperti tercerabut
dari kegermerlapan dunia remaja. Disaat remaja lain berhura-hura. Ali
telah berkenalan dengan nilai-nilai spiritual yang ditunjukkan oleh
Rasulullah, baik melalui lisan maupun melalui tindak-tanduk beliau. "Aku
selalu mengikutinya (Rasulullah SAWW) sebagaimana anak kecil selalu
membuntuti ibunya. Setiap hari ia menunjukkan kepadaku akhlak yang mulai
dan memerintahkanku untuk mengikuti jejaknya", begitu kata Ali
mengenang masa-masa indah bersama Rasulullah tidak lama setelah
Rasulullah wafat.
Amirul mukminin Ali, tumbuh menjadi pemuda yang
berdedikasi. Dalam berbagai forum serius yang dihadiri para tetua, Ali
selalu ada mewakili kemudaan. Namun, muda tak berarti tak bijaksana.
Banyak argumen dan kata-kata Ali yang kemudian menjadi rujukan. Khalifah
Umar bahkan pernah berkata,"Tanpa Ali, Umar sudah lama binasa"
Pengorbanannya
menjadi buah bibir sejarah Islam. Ali-lah yang bersedia tidur di
ranjang Rasulullah, menggantikan dirinya, saat rumahnya telah terkepung
oleh puluhan pemuda terbaik utusan kaum kafir Quraisy yang hendak
membunuhnya di pagi buta. Ali bertaruh nyawa. Dan hanya desain Allah
saja semata, jika kemudian ia masih tetap selamat, begitu juga dengan
Rasulullah yang saat itu 'terpaksa' hijrah ditemani Abu Bakar seorang.
Keperkasaan
Ali tiada banding. Dalam perang Badar, perang pertama yang paling
berkesan bagi Rasulullah (sehingga setelahnya, beliau memanggil para
sahabat yang ikut berjuang dalam Badar dengan sebutan " Yaa...ahlul
Badar..."), Ali menunjukkan siapa dirinya sesungguhnya. Dalam perang itu
ia berhasil menewaskan separo dari 70an pihak musuh yang terbunuh. Hari
itu, bersama sepasukan malaikat yang turun dari langit, Ali mengamuk
laksana badai gurun.
Perang Badar adalah perang spiritual. Di
sinilah, para sahabat terdekat dan pertama-tama Rasulullah menunjukkan
dedikasinya terhadap apa yang disebut dengan iman. Mulanya, jumlah lawan
yang sepuluh kali lipat jumlahnya menggundahkan hati para sahabat.
Namun, doa pamungkas Rasulullah menjadi penyelamat dari jiwa-jiwa yang
gundah. Sebuah doa, semirip ultimatum, yang setelah itu tak pernah lagi
diucapkan Rasulullah..."Ya Allah, disinilah sisa umat terbaikmu
berkumpul...jika Engkau tak menurunkan bantuanmu, Islam takkan lagi
tegak di muka bumi ini..."
Dalam berbagai siroh, disebutkan bahwa
musuh kemudian melihat jumlah pasukan muslim seakan tiada batasnya,
padahal jumlah sejatinya tidaklah lebih dari 30 gelintir. Pasukan
berjubah putih berkuda putih seperti turun dari langit dan bergabung
bersama pasukan Rasulullah. Itulah, kemenangan pasukan iman. Dan Ali,
menjadi bintang lapangannya hari itu.
Tak hanya Badar, banyak
peperangan setelahnya menjadikan Ali sebagai sosok yang disegani. Di
Uhud, perang paling berdarah bagi kaum muslim, Ali menjadi penyelamat
karena dialah yang tetap teguh mengibarkan panji Islam setelah satu demi
satu para sahabat bertumbangan. Dan yang terpenting, Ali melindungi
Rasulullah yang kala itu terjepit hingga gigi RAsulullah bahkan rompal
dan darah mengalir di mana-mana. Teriakan takbir dari Ali menguatkan
kembali semangat bertarung para sahabat, terutama setelah melihat
Rasululah dalam kondisi kritis.
Perang Uhud meski pahit namun
sejatinya berbuah manis. Di Uhud, Rasulullah banyak kehilangan sahabat
terbaiknya, para ahlul Badar. Termasuk pamannya, Hamzah --sang singa
padang pasir. Kedukaan yang tak terperi, sebab Hamzah-lah yang selama
ini loyal melindungi Rasulullah setelah Abi Thalib wafat. Buah manisnya
adalah, doa penting Rasulullah juga terkabul, yaitu masuknya Khalid bin
Walid, panglima musuh di Perang Uhud, ke pangkuan Islam. Khalid
kemudian, hingga akhir hayatnya, mempersembahkan kontribusi besar
terhadap kemenangan dan perkembangan Islam.
Bagi Ali sendiri,
perang Uhud makin menguatkan imagi tersendiri pada sosok Fatimah binti
Muhammad SAW. Sebab di perang Uhud, Fatimah turut serta. Dialah yang
membasuh luka ayahnya, juga Ali, berikut pedang dan baju perisainya yang
bersimbah darah.
Juga di perang Khandak. Perang yang juga
terhitung genting. Perang pertama yang sifatnya psyco-war. Ali kembali
menjadi pahlawan, setelah cuma ia satu-satunya sahabat yang 'berani'
maju meladeni tantangan seorang musuh yang dikenal jawara paling
tangguh, ‘Amr bin Abdi Wud. Dalam gumpalan debu pasir dan dentingan
suara pedang. Ali bertarung satu lawan satu. Rasulullah SAW bahkan
bersabda: “Manifestasi seluruh iman sedang berhadapan dengan manifestasi
seluruh kekufuran”.
Dan teriakan takbir menjadi pertanda, bahwa
Ali menyudahinya dengan kemenangan. Kerja keras Ali berbuah. Kemenangan
di raih pasukan Islam tanpa ada benturan kedua pasukan. Tidak ada
pertumpahan darah. kegemilangan ini, membuat Rasulullah SAW pada sebuah
kesempatan : “Peperangan Ali dengan ‘Amr lebih utama dari amalan umatku
hingga hari kiamat kelak”.
Seluruh peperangan Rasulullah diikuti
oleh Ali, kecuali satu di Perang Tabuk. Rasulullah memintanya menetap di
Mekkah untuk menjaga stabilitas wilayah. Sebab Rasulullah mengetahui,
ada upaya busuk dari kaum munafiq untuk melemahkan Mekkah dari dalam
saat Rasulullah keluar memimpin perang TAbuk. Kehadiran Ali di Mekkah,
meski seorang diri, telah berhasil memporakporandakan rencana buruk itu.
Nyali mereka ciut, mengetahui ada Ali di tengah-tengah mereka.
Perubahan
drastis ditunjukkan Ali setelah Rasulullah wafat. Ia lebih suka
menyepi, bergelut dengan ilmu, mengajarkan Islam kepada murid-muridnya.
Di fase inilah, Ali menjadi sosok dirinya yang lain, yaitu seorang
pemikir. Keperkasaannya yang melegenda telah diubahnya menjadi sosok
yang identik dengan ilmu. Ali benar-benar terinspirasi oleh kata-kata
Rasulullah, "jika aku ini adalah kota ilmu, maka Ali adalah pintu
gerbangnya". Dari ahli pedang menjadi ahli kalam (pena). Ali begitu
tenggelam didalamnya, hingga kemudian ia 'terbangun' kembali ke
gelanggang untuk menyelesaikan 'benang ruwet', sebuah nokta merah dalam
sejarah Islam. Sebuah fase di mana sahabat harus bertempur melawan
sahabat.
Kenangan Bersama Fatimah Az-Zahra
Sejatinya,
sosok Fatimah telah lama ada di hati Ali. Ali-lah yang mengantarkan
Fatimah kecil meninggalkan Mekkah menyusul ayahnya yang telah dulu
hijrah. Ali pula yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri, betapa
Fatimah menangis tersedu-sedu setiap kali Rasulullah dizhalimi. Ali bisa
merasakan betapa pedihnya hati fatimah saat ia membersihkan kotoran
kambing dari punggung ayahnya yang sedang sholat, yang dilemparkan
dengan penuh kebencian oleh orang-orang kafir quraisy.
Bagi
Fatimah, sosok rasulullah, ayahnya, adalah sosok yang paling
dirindukannya. Meski hati sedih bukan kepalang, duka tak berujung suka,
begitu melihat wajah ayahnya, semua sedih dan duka akan sirna seketika.
Bagi Fatimah, Rasulullah adalah inspirator terbesar dalam hidupnya.
Fatimah hidup dalam kesederhanaan karena Rasulullah menampakkan padanya
hakikat kesederhanaan dan kebersahajaan. Fatimah belajar sabar, karena
Rasulullah telah menanamkan makna kesabaran melalui deraan dan fitnah
yang diterimanya di sepanjang hidupnya. Dan Ali merasakan itu semua.
Karena ia tumbuh dan besar di tengah-tengah mereka berdua.
Maka,
saat Rasulullah mempercayakan Fatimah pada dirinya, sebagai belahan
jiwanya, sebagai teman mengarungi kehidupan, maka saat itulah hari
paling bersejarah bagi dirinya. Sebab, sesunguhnya, Fatimah bagi Ali
adalah seperti bunda Khodijah bagi Rasulullah. Teramatlah istimewa.
Suka
duka, yang lebih banyak dukanya mereka lewati bersama. Dua hari setelah
kelahiran Hasan, putra pertama mereka, Ali harus berangkat pergi ke
medan perang bersama Rasulullah. Ali tidak pernah benar-benar bisa
mencurahkan seluruh cintanya buat Fatimah juga anaknya. Ada mulut-mulut
umat yang menganga yang juga menanti cinta sang khalifah.
Mereka
berdua hidup dalam kesederhanaan. Kesederhanaan yang sampai mengguncang
langit. Penduduk langit bahkan sampai ikut menangis karenanya.
Berhari-hari tak ada makanan di meja makan. Puasa tiga hari
berturut-turut karena ketiadaan makanan pernah hinggap dalam kehidupan
mereka. Tengoklah Ali, dia sedang menimba air di pojokkan sana, Setiap
timba yang bisa angkat, dihargai dengan sebutir kurma. Hasan dan Husein
bukan main riangnya mendapatkan sekerat kurma dari sang ayah.
Pun,
demikian tak pernah ada keluk kesah dari mulut mereka. Bahkan, mereka
masih bisa bersedekah. Rasulullah...tak mampu menahan tangisnya... saat
mengetahui Fatimah memberikan satu-satunya benda berharga miliknya,
seuntai kalung peninggalan sang bunda Khodijah, ketika kedatangan
pengemis yang meminta belas kasihan padanya. Rasulullah, yang perkasa
itu, tak mampu menyembunyikan betapa air matanya menetes satu
persatu...terutama mengingat bahwa kalung itu begitu khusus maknanya
bagi dirinya... dan fatimah rela melepasnya, demi menyelamatkan perut
seorang pengemis yang lapar, yang bahkan tidak pula dikenalnya.
Dan
lihatlah...langit tak diam. Mereka telah menyusun rencana. HIngga,
melalui tangan para sahabat, kalung itu akhirnya kembali ke Fatimah.
Sang pengemis, budak belaian itu bisa pulang dalam keadaan kenyang, dan
punya bekal pulang, menjadi hamba yang merdeka pula. Dan yang terpenting
adalah kalung itu telah kembali ke lehernya yang paling
berhak...Fatimah.
Namun, waktu terus berjalan. Cinta di dunia
tidaklah pernah abadi. Sebab jasad terbatasi oleh usia. Mati.
Sepeninggal Rasulullah, Fatimah lebih sering berada dalam kesendirian.
Ia bahkan sering sakit-sakitan. Sebuah kondisi yang sebelumnya tidak
pernah terjadi saat rasulullah masih hidup. Fatimah seperti tak bisa
menerima, mengapa kondisi umat begitu cepat berubah sepeninggal ayahnya.
Fatimah merasa telah kehilangan sesuatu yang bernama cinta pada diri
umat terhadap pemimpinnya. Dan ia semakin menderita karenanya setiap
kali ia terkenang pada sosok yang dirindukannya, Rasulullah SAW.
Pada
masa ketika kekalutan tengah berada di puncaknya, Fatimah teringat pada
sepenggal kalimat rahasia ayahnya. Pada detik-detik kematian
Rasulullah...di tengah isak tangis Fatimah...Rasulullah membisikkan
sesuatu pada Fatimah, yang dengan itu telah berhasil membuat Fatimah
tersenyum. Senyum yang tak bisa terbaca. Pesan Rasulullah itu sangatlah
rahasia, dia hanya bisa terkatakan nanti setelah Rasulullah wafat atau
saat Fatimah seperti sekarang ini...terbujur di pembaringan. Ya,
Rasulullah berkata, "Sepeninggalku, ...diantara bait-ku (keluargaku),
engkaulah yang pertama-tama akan menyusulku..."
Kini, Fatimah
telah menunggu masa itu. Ia telah sedemikian rindu dengan ayahanda
pujaan hatinya. Setelah menatap mata suaminya, dan menggenggam erat
tangannya...seakan ingin berkata, "kutunggu dirimu nanti di
surga...bersama ayah...", Fatimah Az-Zahro menghembuskan nafasnya yang
terakhir.
Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya... dalam
deraian air mata... Ali menguburkan jasad istrinya tercinta itu...yang
masih belia itu...sendiri...di tengah malam buta...Ali tidak ingin
membagi perasaannya itu dengan orang lain. Mereka berdua larut dalam
keheningan yang hanya mereka berdua yang tahu. Lama Ali terpekur di
gundukan tanah merah yang baru saja dibuatnya. Setiap katanya adalah
setiap tetes air matanya. Mengalir begitu deras. Hingga kemudian, dengan
dua tangan terkepal. Ali bangkit berdiri...dan berteriak
sekeras-seKerasnya sambil menghadap langit...." A L L A H U ... A K B A
R".
Pertempuran Antar Sahabat
Amirul
Mukminin Ali ra., kemudian berkonsentrasi membenahi kondisi umat.
Terutama pada sisi administrasi pemerintahan, ekonomi dan stabilitas
pertahanan. Beberapa reformasi fundamental, seperti penggantian pejabat
dan pengambilan kembali harta yang pernah diberikan oleh khalifah
sebelumnya (Ustman bin Affan) menyulut kontroversi. Terutama, dalam
kacamata awam, Ali tak pula kunjung menyeret pelaku pembunuhan Khalifah
Ustman ke pengadilan.
Yang harus dihadapi Ali tak
tanggung-tanggung, sahabatnya sendiri. Sahabat yang dulu pernah berjuang
bersama Rasulullah menegakkan Islam, kini berada dalam barisan yang
hendak melawannya. Bahkan ada pula sahabat yang dulu membaiatnya menjadi
khalifah. kini turut pula menghadangnya. Kondisi yang betul-betul
pahit.
Ali tidak pandang bulu. Baginya hukum menyentuh siapa
saja. Tidak ada istilah 'orang kuat' di mata Ali. BAgi beliau, "orang
lemah terlihat kuat dimataku, saat aku harus berjuang keras
mengembalikan hak miliknya yang terampas. Orang kuat terlihat lemah di
mataku, saat aku terpaksa mengambil sesuatu darinya yang bukan menjadi
haknya".
Di masa Khalifah Ali, pusat pemerintahan di pindahkan ke
Kuffah. Dari sini kemudian ia mengendalikan wilayah Islam, yang saat
itu telah meluas termasuk Syam. Kondisi saat itu benar-benar membutuhkan
ketegasan. Sebagai khalifah terakhir dalam bingkai Khulafa Ar-rasyidin,
Ali dihadapkan pada masa pelik. Dimana akar dari permasalahannya adalah
makin bertambahnya Islam dari segi jumlah namun makin berkurang pula
dari segi kualitas. Interest pribadi (nafs), kesukuan (nasionalisme
sempit) yang dibalut atas nama agama, menjadi awal mulanya masa
kemunduran Islam.
Ketidaksempurnaan informasi yang diterima bunda
Aisyah di Mekkah terhadap beberapa kebijakan Khalifah Ali telah
membuatnya menyerbu Kuffah. Perang Jamal (Unta), demikian sejarah
mencatatnya. Sebab bunda Aiysah ra memimpin perang melawan Ali dengan
menunggangi Unta. Bersama Aisyah, turut pula sahabat Zubair bin Awam dan
Thalhah. Di akhir peperangan, Khalifah Ali menjelaskan semuanya, dan
Asiyah dipulangkan dengan hormat ke Mekkah. Ali mengutus beberapa
pasukan khusus untuk mengawal kepulangan bunda Aisyah ke Mekkah.
Berikutnya
adalah Perang Shiffin. Bermula dari GUbernur Syam, Muawiyyah bin Abu
Sofyan yang menyatakan penolakannya atas keputusan Ali mengganti dirinya
sebagai gubernur. Kondisi serba tak taat ini membuat Ali masygul.
Mereka bertemu dalam Perang Siffin. Dan di saat-saat memasuki
kekalahannya, pasukan Syam kemudian mengangkat Al-Quran tinggi-tinggi
dengan tombaknya, yang membuat pasukan Kufah menghentikan serangan.
Dengan cara itu, kemudian dibukalah pintu dialog.
Perundingan
inilah yang kemudian membawa babak baru dalam kehidupan Ali, bahkan
dunia Islam hingga saat ini. Sebuah tahkim (arbitrase) yang menurut
sebagian pihak membuat Ali di bagian pihak yang kalah, namun menunjukkan
kemuliaan hati Ali di sisi lain. Syam mengutus Amru Bin 'Ash yang
terkenal dengan negosiasinya dan Ali mengutus Abu Musa Asyari, yang
terkenal dengan kejujurannya. Ali nampak betul-betul berharap terhadap
perundingan ini dan menghasilkan traktat yang membawa kedamaian diantara
keduanya. Namun, kelihaian mengolah kata-kata dari pihak Syam membuat
arbitrase itu seperti mengukuhkan kemunduran Ali sebagai khalifah dan
menggantikannya dengan Muawiyah.
Dan ini menimbulkan
ketidakpuasan dari beberapa elemen di pasukan Ali. Dari sini, lahirlah
para Khawarij yang kelak kemudian, bertanggung jawab terhadap kematian
Khalifah Ali.
Khawarij itu, Tiga untuk Tiga... Mereka membentuk
tim berisi tiga orang yang tugasnya membunuh tiga orang yang dianggap
paling bertanggung jawab terhadap perundingan tersebut. Abdurahman bin
Muljam ditugasi untuk membunuh Ali bin Thalib, Amr bin Abi Bakar
ditugasi untuk membunuh Muawiyah, dan Amir bin Bakar ditugasi untuk
membunuh Amr bin Ash. Mereka kemudian gagal membunuh tokoh-tokoh ini,
kecuali Abdurahman bin Muljam.
Menjelang wafatnya Khalifah Ali
ra, Ali sempat bermuram durja. Sebab, penduduk Kuffah termakan
propaganda dan kehilangan ketaatan kepada dirinya. Saat Ali meminta
warga Kuffah untuk mempersiapkan diri menyerbu Syam, namun warga Kuffah
tak terlalu menanggapi seruan itu. Ini berdampak psikologis amat berat
bagi Ali. Tidak hanya sekali dua kali. tapi acapkali seruan Khalifah Ali
di anggap angin lalu oleh warga Kufah.
Karena itu, Ali sempat
berkata," “Aku terjebak di tengah orang-orang tidak menaati perintah dan
tidak memenuhi panggilanku. Wahai kalian yang tidak mengerti kesetiaan!
Untuk apa kalian menunggu? Mengapa kalian tidak melakukan tindakan
apapun untuk membela agama Allah? Mana agama yang kalian yakini dan mana
kecemburuan yang bisa membangkitkan amarah kalian?”
Pada
kesempatan yang lain beliau juga berkata, “Wahai umat yang jika aku
perintah tidak menggubris perintahku, dan jika aku panggil tidak
menjawab panggilanku! Kalian adalah orang-orang yang kebingungan kala
mendapat kesempatan dan lemah ketika diserang. Jika sekelompok orang
datang dengan pemimpinnya, kalian cerca mereka, dan jika terpaksa
melakukan pekerjaan berat, kalian menyerah. Aku tidak lagi merasa nyaman
berada di tengah-tengah kalian. Jika bersama kalian, aku merasa
sebatang kara.”
"Jika bersama kalian, aku merasa sebatang kara".
Pernyataan pedih mewakili hati yang pedih. Dalam kehidupan kekinian,
mungkin bertebaran di tengah-tengah kita pemimpin-pemimpin baru atau
anak-anak muda berjiwa pembaharu yang dalam hatinya sama dengan dalamnya
hati Ali ra saat mengucapkan kalimat itu. Mereka menawarkan jalan cerah
tapi, kita umatnya memilih kegelapan yang nampak menyilaukan. Kita abai
terhadap ajakan mereka, dan malah mungkin memusuhinya...mengisolasinya.
Ahhh...semoga kita terhindar dari kelakuan keji itu...
Usaha
Khalifah Ali ra untuk menyusun kembali peta kekuatan Islam sebenarnya
telah diambang keberhasilan. Satu demi satu yang dulunya tercerai berai
telah kembali berikrar setia pada beliau. Namun , Allah berkehendak
lain, setelah berjuang keras sekitar 5 tahun menjaga amanah kepemimpinan
umat, dan setelah melewati berbagai fitnah dan deraan, Khalifah Ali
menyusul kekasih hatinya, Rasulullah SAW dan FAtimah Az-Zahra menghadap
Sang Pencipta, Allah SWT.
Hari itu, tanggal 19 ramadhan tahun 40
H, saat beliau mengangkat kepala dari sujudnya, sebilah pedang beracun
terayun dan mendarat tepat di atas dahinya. Darah mengucur deras
membahasi mihrab masjid. “Fuztu wa rabbil ka’bah. Demi pemilik Ka’bah,
aku telah meraih kemenangan.”, sabda Ali di tengah cucuran darah yang
mengalir. Dua hari setelahnya, Khalifah Ali wafat. Ia menemui kesyahidan
seperti cita-citanya. Seperti istrinya, Ali juga dimakamkan diam-diam
di gelap malam oleh keluarganya di luar kota Kuffah.
Di
detik-detik kematiannya, bibir beliau berulang-ulang mengucapkan
“Lailahaillallah” dan membaca ayat, “Faman ya’mal mitsqala dzarratin
khairan yarah. Waman ya’mal mitsqala dzarratin syarran yarah.” yang
artinya, “Siapapun yang melakukan kebaikan sebiji atompun, dia akan
mendapatkan balasannyanya, dan siapa saja melakukan keburukan meski
sekecil biji atom, kelak dia akan mendapatkan balasannya.”
Beliau
sempat pula mewasiatkan nasehat kepada keluarganya dan juga umat
muslim. Di antaranya : menjalin hubungan sanak keluaga atau
silaturrahim, memperhatikan anak yatim dan tetangga, mengamalkan ajaran
Al-Qur’an, menegakkan shalat yang merupakan tiang agama, melaksanakan
ibadah haji, puasa, jihad, zakat, memperhatikan keluarga Nabi dan
hamba-hamba Allah, serta menjalankan amr maruf dan nahi munkar.
Islam
telah ditinggalkan oleh satu lagi putra terbaiknya. Pengalaman heroik
hidupnya telah melahirkan begitu banyak kata-kata mulia yang mungkin
akan pula menjadi abadi. Ia menjadi inspirasi bagi setiap pemimpin yang
ingin membawa bumi ini pada ketundukan kepada Allah SWT.
Saat ia
dicerca dari banyak arah, lahirlah perkataan beliau : “Cercaan para
pencerca tidak akan melemahkan semangat selama aku berada di jalan
Allah”.
Saat beliau mesti menerima kenyataan pahit berperang
dengan sahabatnya sendiri, dan juga mendapatkan persahabatan dari oarng
yang dulunya menjadi musuh,lahirlah : "Cintailah sahabatmu biasa saja,
karena mungkin ia akan menjadi penentangmu pada suatu hari, dan bencilah
musuhmu biasa saja, karena mungkin ia akan menjadi sahabatmu pada suatu
hari".
Beliau juga sangat menghormati ilmu. Tidak terkira
banyaknya, kalmat bijak yang keluar dari mulutnya tentang keutamaan
mencari ilmu. Ia juga menyarankan orang untuk sejenak merenungi ilmu dan
hikmah-hikmah kehidupan. Kata beliau, "Renungkanlah berita yang kau
dengar secara baik-baik (dan jangan hanya menjadi penukil berita),
penukil ilmu sangatlah banyak dan perenungnya sangat sedikit".
Khalifah
Ali ra adalah sebuah legenda. He is a legend. Dan legenda tidak akan
pernah mati. Bisa jadi, saat lilin-lilin di sekitar kita mulai padam
satu persatu, dan kita kehilangan panduan karenanya, maka pejamkanlah
saja sekalian matamu. Hadirkan para legenda-legenda Islam itu, termasuk
beliau ini, dalam benakmu dan niscaya ia akan menjadi penerang
bagimu...seterang-terangnya cahaya yang pernah ada di muka bumi.